Selasa, 08 September 2026

BPBD Purworejo: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Belum Terindikasi Masuk Jateng

Kepala Pelaksana BPBD Purworejo Wasit Diono
PURWOREJO – Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purworejo Wasit Diono SSos mengimbau masyarakat untuk tidak panik terhadap kabar beredarnya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah Jawa Tengah. Hingga Senin 7 September 2026, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang menyatakan belum ada indikasi abu vulkanik masuk ke Jawa Tengah. Pernyataan resmi itu tertuang dalam surat Nomor: e.B/ME.02.04/021/KSRG/IX/2026. Berdasarkan paper test abu vulkanik yang dilakukan 7 September 2026 di 3 titik, yakni Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Stasiun Meteorologi Kelas II Tunggul Wulung Cilacap dan Stasiun Meteorologi Maritim Kelas III Tegal, seluruh hasilnya menunjukkan negatif.
“Dengan demikian, hingga waktu pengamatan tersebut, belum terdapat indikasi deposisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah Jawa Tengah,” demikian poin pernyataan BMKG. Data kualitas udara di Semarang untuk parameter SPM dan PM2.5 juga tidak menunjukkan perubahan signifikan sebelum dan sesudah erupsi Gunung Anak Krakatau. Ini menjadi indikator pendukung bahwa belum ada abu vulkanik yang masuk ke wilayah Semarang. BMKG menjelaskan kondisi berdebu di sejumlah kabupaten/kota di Jateng saat ini tidak dapat langsung disimpulkan sebagai abu vulkanik. Saat ini sekitar 24 wilayah di Jawa Tengah berstatus awas karena sudah lebih dari 61 hari tanpa hujan. Kondisi tanah kering membuat debu mudah terangkat angin dan aktivitas manusia. “Oleh karena itu, debu yang ditemukan di lingkungan masyarakat lebih memungkinkan berasal dari kondisi permukaan yang kering dan tidak serta-merta merupakan abu vulkanik,” jelas BMKG. 
Berdasarkan Peta Satelit Himawari-9 VA dan Peta Trajektori Sebaran Abu Vulkanik dari Volcanic Ash Advisory Centre VAAC Darwin tanggal 7 September 2026, abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat daya menuju Samudera Hindia, menjauhi Jawa Tengah. Prakiraan angin pada ketinggian 3.000 feet juga menunjukkan arah dari timur ke barat. Sehingga material di atmosfer cenderung terbawa ke arah barat dan tidak mengarah ke Jawa Tengah.  
Meski demikian, BMKG menyebut kondisi atmosfer dinamis dan tetap melakukan pemantauan. BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak menafsirkan sebaran abu vulkanik hanya berdasarkan peta angin di aplikasi pihak ketiga. “Peta angin menunjukkan pola arah dan kecepatan angin, namun tidak secara langsung menunjukkan keberadaan, konsentrasi, maupun jalur sebaran abu vulkanik,” tegasnya. Wasit Diono bersama BMKG meminta masyarakat merujuk informasi resmi dari pemerintah, khususnya BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan instansi terkait. “Untuk mendapatkan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, masyarakat diimbau untuk merujuk pada saluran resmi pemerintah,” ujarnya. BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi atmosfer. (*/kj)

Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SPACE AVAILABLE

SPACE AVAILABLE

POPULER