Senin, 10 Agustus 2026

HUT ke-67 TSS Indonesia : Refleksi Jalan Membentuk Manusia Harmonis

PURWOREJO - Di tengah derasnya arus modernisasi, Perguruan Seni Bela Diri Pencak Silat Tri Susila Indonesia TSS Indonesia tetap berpegang pada satu cita-cita awal menyatukan generasi muda. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan karakter. Peringatan HUT ke-67 TSS Indonesia digelar sederhana di Padepokan TSS Indonesia, Kelurahan Cangkrep Kidul Kecamatan/Kabupaten Purworejo,  Sabtu (8/8/2026) malam. Momentum tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa pencak silat bagi Tri Susila bukan sekadar seni bela diri, melainkan jalan membentuk manusia yang terkendali, aman dan harmonis. 
Sejarah TSS dimulai Minggu Legi, 9 Agustus 1959 di Dusun Joho, Cangkrep Kidul. Diprakarsai almarhum Tugino BA, perguruan ini lahir sebagai jawaban atas perpecahan pemuda akibat perbedaan politik dan kepentingan pada era 100 partai. “Gagasan tersebut tidak terlepas dari keprihatinan almarhum Pak Tugino BA terhadap berbagai kesalahpahaman dan perselisihan yang pernah terjadi di kalangan pemuda,” ungkap Penasihat TSS Indonesia, Lasiman.  
Dari situlah lahir falsafah Tri Susila yaitu Susila Pikir, Susila Perkataan dan Susila Perbuatan. Tiga fondasi ini menjadi kompas hidup anggota. "Susila Pikir yaitu menjaga pikiran dari niat buruk. Pikiran baik melahirkan kata dan aksi baik. Susila Perkataan yaitu menjaga lisan agar tidak menyakiti. Bahkan saat marah, tetap berpikir sebelum bicara dan Susila Perbuatan yaitu mengendalikan jurus. Kemampuan silat tidak untuk sombong atau merendahkan," tegasnya.  
“Kalau tiga susila itu bisa dilaksanakan, insya Allah pemuda akan lebih terkendali, aman dan mampu menjaga lingkungannya. Walaupun kita benar, walaupun kita bisa pencak, gerak pencak pun harus tetap sopan," imbuh Lasiman.  
 Lasiman mengatakan, pengamalan tiga susila diarahkan pada kondisi netral atau nol, kondisi batin yang tidak dikendalikan nafsu dan pengaruh negatif. “Kalau kita sudah bisa nol, bisa netral, di situlah sebetulnya ada unsur kekuatan ilahiyah yang luar biasa,” ujarnya. Netral diartikan bukan pasif, melainkan bijaksana dalam menempatkan diri. Pada usia 67 tahun, Ketua Umum TSS Indonesia, Eko Satyawan SP, menegaskan arah pembinaan ke depan. TSS ingin melahirkan pesilat yang berprestasi sekaligus beretika.  
“Harapan saya dalam memperingati harlah kali ini adalah menjadikan pesilat yang tahu diri, tahu adab, serta tahu dan menghormati sesepuh atau gurunya. Menjadi pesilat itu bukan hanya tentang kemampuan bersilat sendiri. Tetapi bagaimana menjadi pesilat yang mandiri, tangguh, tanggap, tanggon dan trengginas berdasarkan koridor Trisusila,” ungkap Eko.  
Dalam waktu dekat TSS akan menggelar harlah pada September 2026 dengan agenda longmarch. Agenda ini diharapkan menjadi ruang mempererat persaudaraan sekaligus menanamkan nilai luhur perguruan. Di bidang olahraga, TSS terus mendorong atletnya berlaga. Para pesilatnya telah aktif di Popda, berbagai kejuaraan daerah dan luar kota. Dalam waktu dekat, TSS akan mengirim atlet ke kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Tengah di GOR Jatidiri. Pembinaan juga inklusif. TSS membuka pintu bagi semua usia, mulai PAUD hingga sesepuh.  
“Mulai dari PAUD sampai dewasa atau sesepuh bisa bersama-sama saling mengisi dan belajar bagaimana cara bersilat yang baik,” kata Eko. Tri Susila didirikan karena keprihatinan atas konflik antarkelompok pemuda dan padepokan silat yang dipicu oleh pikiran, perkataan dan perbuatan yang tidak susila. Nama Tri Susila sendiri berarti Tiga Rahasia Individu yaitu Suasana Silaturahmi Tiga Kunci Hidup Manusia. Pada awalnya, guru besar almarhum Haji Wono Utomo dari Jaya Titis Setia Hati mengamanahkan agar Tri Susila masuk IPSI Kabupaten Purworejo, agar pencak silat tetap berkembang dalam koridor organisasi resmi.  
Setelah almarhum Tugino wafat pada 2013, estafet kepemimpinan dilanjutkan Eko Satyawan hingga sekarang. Bagi Lasiman, pesan utama Tri Susila harus hidup di luar padepokan. “Semua anggota Tri Susila harus bisa mengamalkan dalam sikap hidup sehari-hari. Kalau tiga susila itu sudah dipegang, insya Allah diri kita aman dan lingkungan kita juga aman,” pungkasnya.  
Di usia 67 tahun, TSS Indonesia menegaskan jati dirinya pencak silat sebagai pendidikan karakter. Tempat generasi belajar berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik. Agar persatuan, kerukunan dan ketenteraman masyarakat Purworejo dan sekitarnya terus terjaga. (*/kj)


Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SPACE AVAILABLE

SPACE AVAILABLE

POPULER