Gejolak Pasar Saham, Bamsoet Dorong Reformasi Tata Kelola Pasar Modal Dipercepat
"Yang terjadi di bursa dalam beberapa hari terakhir merupakan alarm serius. Ini early warning bahwa stabilitas pasar keuangan sangat rentan terhadap persepsi dunia. Negara harus hadir dengan memastikan kesinambungan kepemimpinan di BEI dan OJK agar ruang spekulasi bisa segera ditutup," ujar Bamsoet di Jakarta, Minggu (1/2/2026). Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menilai, pengunduran diri Direktur Utama BEI Iman Rachman, disusul Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar serta jajaran pengawas pasar modal, sebagai bentuk tanggung jawab moral yang patut dihargai. Namun pada saat yang sama, langkah tersebut juga menjadi ujian serius bagi kekuatan institusi ekonomi Indonesia.
"Dalam situasi pasar yang bergejolak, yang paling dibutuhkan adalah kepastian. Negara harus hadir memastikan kesinambungan kepemimpinan di BEI dan OJK berjalan cepat, transparan, dan kredibel. Jangan sampai kekosongan ini dibaca pasar sebagai tanda lemahnya kontrol negara," tegas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mengingatkan, stabilitas pasar keuangan berkaitan langsung dengan keamanan ekonomi negara. Capital out flow yang berlanjut dapat menekan nilai tukar, meningkatkan inflasi, dan pada akhirnya memukul daya beli masyarakat. Jika tekanan ini menjalar ke sektor riil, risiko pemutusan hubungan kerja dan kontraksi industri akan meningkat, terutama di kawasan urban dan sentra manufaktur. Bamsoet juga mengingatkan dalam iklim ekonomi modern, faktor politik dan ekonomi semakin saling memengaruhi. Kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal, belanja negara, serta independensi bank sentral dan otoritas keuangan menjadi variabel utama dalam pengambilan keputusan investasi.
"Investor asing tidak lagi memisahkan ekonomi dari politik. Kekhawatiran
investor terhadap arah kebijakan fiskal, belanja negara, serta
independensi bank sentral dan otoritas keuangan menjadi variabel utama
dalam pengambilan keputusan investasi. Ketika salah satu ditanyakan,
pasar bereaksi keras," jelas Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas
Padjajaran ini mendorong pemerintah untuk memperkuat strategi komunikasi
publik secara terkoordinasi. Narasi yang disampaikan harus menegaskan
bahwa sistem keuangan nasional tetap terkendali, pengawasan berjalan dan negara memiliki kapasitas penuh untuk menjaga stabilitas. Komunikasi
yang lambat atau saling bertentangan justru akan memperdalam
kenyamanan.
Momentum ini juga harus dijadikan sebagai motivasi untuk mempercepat
reformasi tata kelola pasar modal. Peningkatan transparansi, perbaikan
struktur kepemilikan dan free float saham, serta penguatan basis
investor nasional perlu dipercepat sebagai sinyal keseriusan Indonesia
memperkuat fondasi pasar keuangan.
“Negara harus bergerak cepat, terkoordinasi, dan tegas. Kalau momentum
ini dikelola dengan tepat, krisis kepercayaan bisa diubah menjadi titik
balik penguatan tata kelola. Namun jika diabaikan, risikonya bisa
berkembang menjadi tekanan strategis yang lebih luas,” pungkas Bamsoet. (*/kg)

Komentar
Posting Komentar