Melihat Tradisi Bersih Desa dan Ritual Sumur Beji Candi : Warga Desa Candingasinan Sambut Ramadan
“Tradisi ini sudah dilakukan sejak lama sebagai bentuk rasa syukur dan doa bersama. Konon, wilayah Candingasinan dahulu merupakan gabungan dari tiga desa, yakni Dusun Candi, Desa Ngemplak dan Desa Sinan, yang kemudian disatukan karena keterbatasan wilayah,” ujar Eko. Menurutnya, pelaksanaan merti desa selalu jatuh pada tanggal 27 Rajab, sedangkan ritual Nisfu Sya’ban dilakukan pada malam 15 Ruwah. Masyarakat meyakini bahwa malam tersebut memiliki makna spiritual, di mana air Sumur Beji dipercaya dapat digunakan untuk membersihkan diri sebagai persiapan menyambut ibadah puasa Ramadan.
“Dalam kepercayaan masyarakat, air Sumur Beji diyakini sebagai sumber kehidupan dan sarana penyucian diri. Ini bukan soal mistis, tetapi sugesti dan keyakinan bahwa dengan hati dan pikiran yang bersih, memohon kepada Allah SWT, maka keberkahan itu akan datang,” jelasnya.
Eko juga menuturkan, legenda yang berkembang di masyarakat mengenai asal usul Sumur Beji, yang dikaitkan dengan sosok leluhur Eyang Panji Nukerto. Konon, sumur tersebut merupakan peninggalan Eyang Panji Nukerto yang dahulu berniat membuat aliran sungai demi kesejahteraan masyarakat, namun akhirnya hanya meninggalkan sumur sebagai sumber air bagi warga.
“Harapan kami, sebagai penerus dan penjaga situs ini, budaya dan tradisi leluhur tetap dijaga dan dilestarikan. Ini bagian dari nguri-uri budaya,” imbuh Eko yang juga merupakan menantu dari juru kunci sebelumnya Mbah Parto Sujono. Sementara itu, Aris, salah satu tokoh masyarakat Dusun Candi, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara gotong royong oleh warga. Persiapan dilakukan secara swadaya tanpa panitia resmi, melainkan hanya kepanitiaan kecil yang bersifat rutin.
“Semua kebutuhan kegiatan dipersiapkan bersama oleh warga. Ke depan, kami berharap ada pengembangan kegiatan, misalnya pengenalan adat, penggunaan kostum tradisional atau acara budaya lainnya agar lebih tertata,” ujarnya.
Aris juga menyebutkan bahwa jumlah pengunjung setiap tahun cukup banyak
dan biasanya meningkat pada malam hari. Selain warga lokal, pengunjung
juga datang dari wilayah lain seperti Kecamatan Banyuurip, Kutoarjo hingga Purworejo. Kehadiran pedagang dari luar daerah turut memberi
dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Kami berharap ada perhatian dan pembinaan dari pemerintah, terutama
terkait fasilitas dan pengelolaan kegiatan, agar tradisi ini bisa terus
lestari dan berkembang lebih baik dari tahun ke tahun,”
pungkasnya. (*/kj)

Komentar
Posting Komentar