"Pemerintahan Presiden Prabowo Tutup 2025 dengan Fondasi Ekonomi dan Pangan yang Kian Kokoh"
“Tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo menjadi fase penting
konsolidasi nasional. Pemerintah tidak bermain aman, tetapi berani
memilih kebijakan strategi untuk jangka panjang,” ujar Bamsoet di
Jakarta, Jumat (2/1/26).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini memaparkan,
investasi menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi.
Realisasi investasi pada semester pertama 2025 menembus Rp 942 triliun,
meningkat lebih dari 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya. Investasi ini menyebar ke sektor industri pengolahan,
energi, pertambangan hilirisasi, hingga infrastruktur dasar, serta
menyerap lebih dari satu juta tenaga kerja. Angka tersebut mencerminkan
kepercayaan dunia usaha terhadap kepastian kebijakan dan stabilitas
politik nasional.
"Di bidang fiskal, pemerintah cukup disiplin. Defisit anggaran tetap
dijaga dalam batas aman, belanja negara diarahkan pada sektor produktif,
dan program bantuan sosial difokuskan untuk menjaga daya beli
masyarakat tetap rendah. Kebijakan ini membantu mengurangi gejolak
sosial sekaligus menjaga stabilitas ekonomi domestik," kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela
Negara FKPPI ini menguraikan, pemerintahan Presiden Prabowo juga
mempercepat agenda hilirisasi sumber daya alam. Sepanjang tahun 2025,
sejumlah proyek pengolahan mineral dan energi mulai beroperasi atau
memasuki tahap konstruksi lanjutan. Nilai tambah komoditas nasional
meningkat, ekspor produk olahan tumbuh, dan ketergantungan pada ekspor
bahan mentah perlahan dikurangi. Hilirisasi ini menjadi kunci penciptaan
lapangan kerja berkualitas dan penguatan struktur industri nasional.
Di sektor pangan, pemerintahan Presiden Prabowo mencatat banyak hal
penting dengan penguatan impor beras sepanjang tahun 2025. Produksi
beras nasional meningkat signifikan, cadangan beras pemerintah berada
pada level tertinggi sepanjang sejarah, dan harga pembelian gabah petani
meningkat hingga Rp 6.500 per kilogram. Keberhasilan ini menunjukkan
keseriusan pemerintah menjadikan pangan sebagai isu keamanan, bukan
sekadar komoditas ekonomi.
"Di bidang energi, pemerintah mulai mendorong transisi yang lebih
realistis. Ketahanan energi diperkuat melalui optimalisasi sumber daya
domestik, penguatan cadangan energi nasional, dan peningkatan investasi
pada energi baru dan terbarukan. Kebijakan ini diarahkan agar Indonesia
tidak mudah terombang-ambing oleh fluktuasi harga energi global," jelas
Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas
Padjajaran ini menuturkan, Pembangunan sumber daya manusia juga mendapat
perhatian besar. Program Makan Bergizi Gratis terus digulirkan secara
bertahap dengan sasaran anak sekolah dan kelompok rentan. Pemerintah
juga memperluas akses pemeriksaan kesehatan gratis serta memperkuat
layanan kesehatan primer. Investasi pada gizi dan kesehatan merupakan
investasi jangka panjang yang hasilnya tidak instan, tetapi menentukan
kualitas generasi mendatang.
"Pada dinamika geopolitik global, pemerintahan Presiden Prabowo
menegaskan politik luar negeri bebas aktif yang lebih tegas, memperkuat
kerja sama perlindungan, serta menjaga stabilitas kawasan. Langkah ini
penting untuk memastikan pembangunan nasional berjalan tanpa gangguan
keamanan regional," urai Bamsoet.
Meski begitu, Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mengingatkan bahwa
pencapaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak lengah. Ketimpangan
ekonomi, pemerataan pembangunan antarwilayah, efektivitas birokrasi,
serta transparansi data masih menjadi tantangan serius. Program besar
dengan anggaran jumbo memerlukan pengawasan ketat agar manfaatnya
benar-benar dirasakan masyarakat luas.
“Keberhasilan pemerintah di tahun pertama ini patut diapresiasi, tetapi
harus terus dikawal. Konsistensi, transparansi, dan keberanian melakukan
koreksi akan menentukan apakah fondasi yang dibangun pada tahun 2025
benar-benar kokoh,” pungkas Bamsoet. (*/kg)

Komentar
Posting Komentar