"Sudah Waktunya Zaman Keemasan bagi Penghayat Kepercayaan dan Indonesia"
Dari 70 Tahun Peringatan Turunnya Wahyu Panca Gaib
![]() |
| Foto bersama Pinisepuh Kapribaden dan perwakilan Kementerian Kebudayan RI |
![]() |
| Penyerahan kenang-kenangan kepada Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi |
![]() |
| Sambutan Pinisepuh Kapribaden Ibu Hartini Wahyono |
![]() |
| Sambutan Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan |
Makna dari lakon tersebut adalah sudah waktunya zaman keemasan bagi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Indonesia dengan berdirinya Kementerian Kebudayaan. "Demikian harapan kami, dengan adanya Kementerian Kebudayaan maka keberadaan Penghayat Kepercayaan semakin mendapat perlindungan dari negara sehingga mendapatkan kehidupan yang setara sebagai warga negara Indonesia dalam menjalankan keyakinan sebagai Penghayat Kepercayaan dan dapat mengembangkan potensinya untuk mendapatkan kesejahteraan hidup di Indonesia bersama seluruh elemen masyarakat," beber Pinisepuh Kapribaden.
![]() |
| Foto bersama pada peringatan 70 tahun turunnya Wahyu Panca Gaib |
Untuk peserta kegiatan ribuan orang, terdiri dari pengurus dan warga Paguyuban Penghayat Kapribaden seluruh Indonesia, Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Purworejo, MLKI Pusat dan Kabupaten Purworejo, Organisasi Kepercayaan di Kabupaten Purworejo maupun FKUB Kabupaten Purworejo.
Bentuk kegiatan yang digelar, mulai dari sarasehan warga Penghayat Kapribaden, bakti sosial berupa donor darah, kirab budaya, seremonial puncak peringatan 70 tahun turunnya wahyu dan pagelaran wayang kulit.
Suasana begitu semarak pada peringatan 70 tahun turunnya Wahyu Panca Gaib pada Kamis 13 November 2025 malam. Ada penampilan Tari Gambyong, persembahan panembromo, suguhan Tari Bali dan berbagai penampilan seni budaya lainnya seperti Tari Ndolalak yang merupakan tari khas dari Kabupaten Purworejo.
Berbagai sambutan disampaikan, mulai sambutan Pinisepuh Kapribaden, perwakilan Bupati Purworejo, perwakilan dari Kementerian Kebudayaan. Panitia juga memberikan kenang-kenangan kepada perwakilan Kementerian Kebudayaan.
Dalam sambutannya, Rintoko selaku ketua panitia menyampaikan, pada peringatan 70 tahun turunnya Wahyu Panca Gaib telah dilaksanakan beberapa kegiatan dari pagi hingga semalam suntuk yaitu kegiatan-kegiatan sarasehan pengurus pusat dan daerah, bakti sosial donor darah, kirab budaya, seremonial puncak peringatan 70 tahun turunnya wahyu dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Wis Titi Wancine” yang dipagelarkan dalang dari
Kapribaden yaitu Ki Joko Kondobuwono.
"Harapannya peringatan turunnya Wahyu Panca Gaib kali ini menjadi kesan yang mendalam dan semakin menyemangati seluruh warga Penghayat Kapribaden, apalagi dengan kehadiran Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan," sebut Rintoko.
Sementara itu, Ibu Hartini Wahyono selaku Pinisepuh Kapribaden menyampaikan, sejarah Sesepuh Kapibaden dan Pendiri Paguyuban Penghayat Kapribaden yaitu Romo M Semono Sastrohadidjojo atau Romo Herucokro Semono, penerima wahyu Panca Gaib. Romo Semono dilahirkan tahun 1900 dan wafat pada 1981. Sejak usia 14 tahun Romo Herucokro Semono sudah menjalani laku spiritual untuk menemukan kesejatian Tuhan dan bagaimana manusia bisa terhubung dengan Tuhan untuk mendapatkan pencerahan dan ketentraman dalam kehidupannya.
Pada 1978, Romo Semono memberikan tongkat komando galih kelor kepada dokter Wahyono Raharjo GSW dan perintah untuk mendirikan paguyuban sebagai wadah guyub rukun Putro-Putro Romo sekaligus sebagai wadah pelestari Laku Kasampurnan Manunggal Kinatenan Sarwa Mijil yang Romo Semono ajarkan.
Paguyuban tersebut kemudian diberi nama Paguyuban Penghayat Kapribaden (Kapribaden). Bersyukur Putro-Putro Romo dapat menjaga dan melanjutkan keberadaan Kapribaden. Saat ini Kapribaden memiliki cabang di 6 provinsi dan 50 kabupaten/kota, bahkan sudah berbadan hukum.
Pinisepuh Kapribaden juga menyampaikan rasa syukur dengan dibentuknya Kementerian Kebudayaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Dr Restu Gunawan MHum selaku Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan bersama Sjamsul Hadi SH MM selaku Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat. "Ini menunjukkan bahwa pemerintah mempunyai komitmen yang kuat dalam memberikan perlindungan, pelestarian dan pemajuan kebudayaan Indonesia, termasuk Kepercayaan Terhadap Tuhan YME yang merupakan sistem keyakinan yang bersumber dari para leluhur bangsa," tegas Ibu Hartini Wahyono.
Oleh karena itu, pada peringatan 70 tahun turunnya Wahyu Panca Gaib, Pinisepuh memberikan judul wayang kulit “Wis Titi Wancine” dengan memberikan tokoh Wayang Kontowarno dan Arjuna kepada dalang, serta tema peringatan yaitu “Penghayat Kapribaden Siap Mewujudkan Kebangkitan dan Kejayaan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME di Indonesia.” "Paguyuban Penghayat Kapribaden adalah salah satu pendiri
yang menandatangani akta notaris pendirian Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Indonesia (MLKI), maka diharapkan para pengurus Kapribaden di daerah-daerah juga turut aktif mendukung kegiatan-kegiatan di MLKI sebagai salah satu cara dalam mewujudkan kejayaan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME," pesan Pinisepuh Kapribaden.
Pinisepuh juga sempat menyampaikan, saat ini sudah waktunya para penghayat kepercayaan termasuk Penghayat Kapribaden menjadi satriya sejati yang selalu dalam tuntunan Tuhan (dilambangkan dengan tokoh wayang Arjuna dan wayang Kontowarno), yang siap mewujudkan kebangkitan dan kejayaan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME di Indonesia.
Sementara itu, Endang Retno Lastani SSos selaku Presidium MLKI Pusat yang turut hadir pada acara menyampaikan ucapan selamat memperingati 70 tahun turunnya Wahyu Panca Gaib. "Bermula dari Kabupaten Purworejo, ajaran Kapribaden dan telah berkembang hingga ke berbagai provinsi," kata Retno Lastani yang mewakili Ketua Presidium MLKI Pusat juga menyampaikan terima kasih atas dukungan aktif Paguyuban Penghayat Kepercayaan kepada MLKI sejak terbentuknya hingga saat ini.
Dikatakan, keberadaan Penghayat Kapribaden di berbagai daerah terutama di Pulau Jawa selalu mewarnai setiap kegiatan MLKI. Sesuai dengan tema peringatan tahun ini, maka MLKI para Penghayat Kapribaden semakin semangat untuk bersama-sama dengan MLKI serta seluruh organisasi Kepercayaan untuk bersatu padu agar Kepercayaan Terhadap Tuhan YME semakin eksis di Indonesia dan dapat turut serta berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sedangkan Dr Restu Gunawan MHum selaku Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi pada Kementerian Kebudayaan, menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Paguyuban Penghayat Kapribaden, yang sejak berdirinya pada 30 Juli 1978 hingga hari ini tetap konsisten menjaga, melestarikan dan mengamalkan ajaran luhur tentang Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil. Melalui ajaran tersebut, Paguyuban Penghayat Kapribaden telah menuntun warganya untuk senantiasa hidup dalam ketenteraman, kebersahajaan dan harmoni dengan sesama serta alam semesta.
"Kami menyadari bahwa Penghayat Kepercayaan merupakan bagian penting dari keragaman kebudayaan Indonesia. Nilai-nilai spiritual dan tradisi yang diwariskan oleh para sesepuh, termasuk Suwargi Romo M Semono Sastrohadijojo, adalah aset budaya yang memperkaya jati diri bangsa," ungkap Restu Gunawan.
"Paguyuban Penghayat Kapribaden telah menunjukkan bahwa spiritualitas dan kebudayaan bukanlah hal yang terpisah, melainkan dua sisi yang saling menguatkan dalam membentuk manusia yang berbudaya dan beriman. Pemerintah, melalui Kementerian Kebudayaan, berkomitmen untuk memberikan ruang dan perlindungan bagi seluruh komunitas Penghayat Kepercayaan agar dapat menjalankan keyakinannya dengan damai, setara dan bermartabat. Kami juga terus mendorong agar nilai-nilai luhur kepercayaan dan tradisi dapat menjadi bagian dari arus utama pembangunan kebudayaan nasional," beber Restu Gunawan.
Disebutkan, kegiatan seperti peringatan turunnya Wahyu Panca Gaib bukan hanya menjadi peristiwa spiritual, tetapi juga momentum penting bagi semua untuk memperkuat persaudaraan, keguyuban dan kebersamaan dalam kebinnekaan. Tema lakon wayang “Wis Titi Wancine”, yang bermakna sudah tiba waktunya zaman keemasan bagi Penghayat Kepercayaan dan bagi Indonesia, sangat relevan
dengan semangat saat ini yaitu membangun Indonesia yang berkeadaban, berkepercayaan diri dan berbudaya. (*)





Komentar
Posting Komentar