Kutim Alami Deflasi Beras, Telur dan Minyak Goreng

KUTIM, CARAKAINDONESIA - Indeks Perkembangan Harga (IPH) jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 Masehi secara umum nasional alami inflasi (harga naik) pada beberapa komoditi. Tapi sebaliknya, justru di Kabupaten Kutai Timur harga barang seperti beras, telur dan minyak goreng (migor) alami deflasi atau penurunan harga. Ini bukan berarti Kutim (Kutai Timur, Red) merupakan daerah penghasil beras, telur dan migor yang melimpah. 
"Melainkan di Sangatta khususnya, stok atau ketersediaan tiga komoditi tersebut cukup banyak," kata Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setkab Kutim Novinoor saat membuka rapat koordinasi pengendalian inflasi di lantai 2 ruang Tempudau, Kantor Bupati, Bukit Pelangi, Senin (17/11/2025). Dia mengungkapkann, pekan kedua November 2025 ini mayoritas kebutuhkan pokok yang diperjualbelikan di wilayah Kutim berasal dari luar daerah yakni dari pulau Jawa dan Sulawesi. 
"Sebenarnya penurunan harga beras, telur dan migor, cabe tidak bagus juga. Apalagi kalau deflasinya terlalu dalam. Deflasi saaat ini minus satu koma tiga satu. Oleh karena itu, kestabilan harga sangat di perlukan untuk semua komoditi," tandasnya Untuk itu, melalui Rakor pengendalian inflasi, pembahasan makan gratis bergizi (MBG) Asisten Ekbang Sekkab Kutim mengajak, kepada semua pihak yang berkepentingan agar masing-masing pandai mengatur pola komsumsi, distribusi dan pemasok barang. Instrumen pengendalian harga terus diterapkan. Pemerintah gelar pasar murah. Pengendalian moneter terkait suku bunga, serta bijak menyikapi dinamika perkembangan pasar global. Pemkab Kutim berkomitmen terus berupaya mandiri dalam sektor produksi. Berdaya saing, serta menjaga stabilitas harga pangan. Ini dimaksud agar pasar berjalan sehat. Pelaku ekonomi terkendali dalam menjaga pasokan pangan. Inflasi atau deflasi terlalu tinggi dan dalam bakal berdampak negatif terhadap pertumbuhan pembangunan ekonomi. 
Sementara, melalui telekomferensi pemerintah pusat yang disaksikan langsung pejabat Pemkab Kutim di ruang Tempudau berlangsung khidmat. Pasalnya yang ada di dalam ruangan suit itu menyimak seksama perbincangan para elit membahas perkembangan harga barang. Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan, jelang Nataru hampir semua komoditi mengalami indeks perkembangan harga (IPH) secara nasional secara variatif. Bahkan menurut Amalia, beberapa di daerah pada jenis komoditi tertentu mengalami kenaikan harga. Termasuk beras, cabai rawit, dan komoditas lainnya. Inflasi tertinggi nasional terjadi di Sumantera Barat. Itu dipengaruhi harga emas murni dan perhiasan. Kalau kebutuhan pangan tidak terlalu juga signifikan. Sulawesi Selatan juga terjadi inflasi. Di se- Kaltim misalnya, juga terjadi inflasi tertinggi di Kabupaten Kutai Barat, seperti, cabe dan beras hingga capai dua koma tujuh persen. Sedangkan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyatakan, secara umum pengendalian inflasi bisa dilakukan pada pasokan kebutuhan pagan. Tapi inflaasi pada barang seperti emas instrumennya seperti apa? Tanya Bima Arya dalam zoom meeting. (baharsikki)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Purworejo Tuan Rumah Kejurwil Atletik 2025 se-Kedu

Inilah Malam Syukuran HUT ke-80 RI Gelaran Pemkot Balikpapan

Prestasi Membanggakan Diraih Siswi SDN Dukuhdungus Kecamatan Grabag-Purworejo